Yayasan Plan International Indonesia (Plan Indonesia) bersama Yakkum Emergency Unit (YEU), dan Asosiasi Penyundang Disabilitas (PPDK) di Klaten menggelar Pelatihan Pencegahan Pelecehan, Kekerasan Seksual dan Eksploitasi (PSEAH). Pelatihan ini bertujuan untuk memberikan pemahaman mendalam kepada pemangku kepentingan proyek terkait Kebijakan Perlindungan dan Keselamatan (Pengamanan) dan GESI (Kesetaraan Gender dan Inklusi Sosial), serta implementasinya dalam cakupan masing-masing organisasi yang terlibat dalam proyek.
Ida Ngurah, Manajer Program Kemanusiaan dan Ketahanan Plan Indonesia menyebut pelatihan ini bertujuan meningkatkan pemahaman pemangku kepentingan terkait risiko yang spesifik dan langkah-langkah mitigasi yang harus diambil saat melibatkan kelompok rentan seperti anak-anak, kaum muda, penyandang disabilitas, dan usia lanjut dalam kegiatan proyek termasuk respons kemanusiaan.
“Kegiatan ini tidak sekedar bengkel atau sosialisasi saja, tapi kami berkumpul dengan pertemuan konsultasi. Hal ini bertujuan untuk memperkuat pemahaman mengenai prinsip-prinsip dan kebijakan PSEAH yang sangat penting dalam kerangka kerja kemanusiaan terutama kepada pemangku kepentingan,” ungkap Ngurah.
Pemangku kepentingan terkait berkumpul di sesi tatap muka yang difasilitasi oleh Plan Indonesia. Sesuai dengan prinsip inklusi yang dikedepankan dalam proyek ini, sesi ini memungkinkan pemangku kepentingan untuk berpartisipasi aktif dalam pengembangan mekanisme umpan balik yang akan membantu dalam implementasi proyek.
Pelaksana program dan pemangku kepentingan terkait diharapkan dapat memiliki pemahaman lebih dalam tentang risiko khusus yang dihadapi oleh kelompok rentan, serta langkah-langkah mitigasi yang diperlukan dalam setiap tahap proyek.
Meilinarti, Manajer Pengelola Proyekan Data Inklusi menambahkan peserta pelatihan diharapkan dapat memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang kebijakan, prinsip-prinsip, dan prosedur yang berlaku terkait PSEAH.
“Selain itu peserta yang merupakan pihak terkait dalam implementasi program diharapkan dapat memahami mekanisme umpan balik yang penting untuk implementasi proyek ini, serta menyepakati model umpan balik yang mendukung inklusifitas berbasis data,” jelas Meili.
Sejumlah peserta mengaku mendapatkan banyak manfaat melalui pelatihan ini. “Saya senang mengikuti pelatihan ini, tentang perlindungan perempuan dan anak. Harapannya ke depan, kita bisa melindungi remaja dan anak dengan lebih baik lagi,” kata Menik, Anggota Kelompok Disabilitas Merapi (KDM) dari desa Bumiharjo Kemalang, Klaten.
Warsito, aggota Unit Layanan Disabilitas (ULD) Penanggulangan Bencana, BPBD Klaten mengungkap materi yang disampaikan dalam pelatihan ini menarik dan akan menjamin hasil dari kegiatan. “Kedepannya, kami ingin merespons pemerintah desa dengan lebih baik, mencegah memaparkan, dan menciptakan tempat yang aman bagi mereka yang mengungsi. Kami berharap pendampingan akan terus berlanjut untuk membantu membentuk kebijakan yang lebih baik dari desa kami,” ungkapnya.
Pelatihan Pencegahan Pelecehan, Kekerasan Seksual dan Eksploitasi (PSEAH) adalah bagian dari program Pengelolaan Data Inklusi, sebuah program yang menawarkan inovasi tentang pengumpulan dan analisis data partisipatif yang inklusif dari penyandang disabilitas, mulai dari usia anak dengan disabilitas hingga lansia penyandang disabilitas, dan perkumpulan lansia laki-laki -laki dan perempuan. Program ini dilaksanakan di wilayah dengan ancaman letusan gunung berapi, khususnya di Kecamatan Kemalang dan Kecamatan Manisrenggo.
Program ini berusaha untuk mengembangkan solusi inovatif yang holistik guna mencerminkan keadaan ideal dan kebutuhan orang-orang yang paling rentan dan berisiko, khususnya saat kejadian bencana letusan gunung berapi. Program ini akan melibatkan banyak aktor kemanusiaan dan pemangku kepentingan sebagai konsultan.
Program Pengelolaan Data Iklusi di Kabupaten Klaten ini didanai dan didukung oleh program Humanitarian Innovation Fund (HIF) dari ELRHA, sebuah fasilitas pemberian hibah yang meningkatkan hasil atau pencapaian bagi orang-orang yang terkena dampak krisis kemanusiaan dengan mengidentifikasi, membina, dan berbagi solusi yang lebih efektif, inovatif, dan terukur.
Program Humanitarian Innovation Fund (HIF) ELRHA secara khusus didanai oleh Kantor Luar Negeri, Persemakmuran dan Pembangunan Inggris (FCDO), Kementerian Luar Negeri Belanda (MFA), Badan Kerjasama Pembangunan Internasional Swedia (Sida), dan Kementerian Luar Negeri Norwegia.
Penulis: Muhammad Reysa – Program Spesialis Komunikasi Plan Indonesia
Pos Pelatihan PSEAH, Bangun Lingkungan Aman untuk Kelompok Rentan muncul pertama kali pada Rencana Internasional.

