Di jalanan Jakarta, sepeda motor bukanlah sekadar mode transportasi - melainkan gaya hidup. Sepeda motor mengantarkan makanan, mengantar paket, mengantar keluarga, dan menjaga denyut nadi kota tetap hidup. Namun, dengan lebih dari 120 juta sepeda motor di Indonesia saja, yang sebagian besar masih menggunakan mesin pembakaran, kenyamanan ini harus dibayar mahal: polusi udara, emisi karbon, dan ketergantungan pada bahan bakar fosil.
Kendaraan listrik sering disebut-sebut sebagai masa depan. Namun di Asia Tenggara, masa depan itu belum terwujud. Sebagian besar merek kendaraan listrik memperlakukan transisi ini seperti peningkatan teknologi - menjual sepeda yang lebih mewah dan menunggu adopsi. Charged, sebuah startup mobilitas yang berbasis di Jakarta, mengambil rute yang sangat berbeda.
Alih-alih mendorong kepemilikan, Charged menawarkan akses. Alih-alih menjual sepeda motor listrik, mereka menyewakannya melalui langganan yang fleksibel dan lengkap.
Hal ini mungkin terdengar sederhana, tetapi di wilayah yang sulit mendapatkan pembiayaan, sulitnya pemeliharaan, dan minimnya margin keuntungan bagi pengendara harian, hal ini merupakan sebuah terobosan.
Inti dari transformasi ini adalah Joel Chang, mantan eksekutif BMW yang meninggalkan dunia korporat setelah menyadari sesuatu yang mengejutkan di Beijing – dan menemukan jalannya ke Jakarta dengan satu misi yang jelas: membersihkan udara dan mengubah model mobilitas di kawasan ini, satu kendaraan listrik di satu waktu.
Berdaya Talk adalah inisiatif di mana kami mengeksplorasi kisah-kisah para changemakers dan inisiatif yang telah mereka kembangkan untuk mendukung pembangunan berkelanjutan di Indonesia. Kali ini, kami berbicara dengan Joel Chang, Group CEO di Charged Asia
Hi Joel - apa yang pertama kali membuat Anda tertarik dengan dunia mobilitas?
Kisah saya dimulai dengan sebuah batu bata – batu bata yang berat dan nyata, yang biasa digunakan untuk membangun rumah.
Pada tahun 2016, saya berkantor di Beijing, menjabat sebagai CEO sebuah grup dealer BMW yang mencakup Tiongkok dan kawasan ASEAN. Saat itu, saya telah bekerja di BMW selama 13 tahun. Di atas kertas, saya berada tepat di tempat yang selalu saya impikan. Saya mencintai mobil sejak kecil - rasanya saya tidak pernah benar-benar dewasa; dan hobi saya menjadi karier saya.
Namun kemudian, saya membaca sebuah laporan yang mengubah segalanya. Laporan itu menyebutkan bahwa rata-rata penduduk Beijing menghirup partikel PM2.5 setara dengan satu bata setiap tahun, yang sebagian besar disebabkan oleh polusi di pinggir jalan.
Gambar itu sangat menyentuh saya. PM2.5 itu berbahaya – cukup kecil untuk masuk ke aliran darah dari paru-paru kita dan cukup besar untuk mengurangi harapan hidup.
Saya harus bertanya pada diri sendiri sebuah pertanyaan yang tidak mengenakkan: Apakah saya bagian dari solusi – atau bagian dari masalah?
Jawabannya jelas - saya turut berkontribusi terhadap masalah ini.
Tak penting apakah saya bekerja di perusahaan besar atau telah mencapai semua yang saya rencanakan. Sesuatu yang lebih besar sedang memanggil. Maka saya pun meninggalkan dunia korporat.
Saya meninggalkan bisnis automotif dan kembali ke Asia Tenggara, bertanya pada diri sendiri pertanyaan yang berbeda: Bagaimana saya dapat berkontribusi ke kawasan ini dengan cara yang benar-benar berarti?
Jika kita serius ingin mengatasi polusi di Asia Tenggara, kita perlu memulainya dengan sepeda motor berbahan bakar bensin. Ada lebih dari 300 juta sepeda motor berbahan bakar bensin di wilayah ini.
Jadi saya menggabungkan apa yang saya miliki – pengalaman saya, jaringan saya, pemahaman saya tentang pasar ini – dan memfokuskan semuanya pada satu misi: menjadikan sepeda motor listrik sebagai solusi nyata dan terukur di Asia Tenggara.
Inilah awal mulanya Charged dirintiskan.
Dengan misi baru dan pemahaman mendalam tentang kawasan ini, Joel mulai mencari medan pertempuran yang tepat untuk memulai. Dan dalam hal skala, urgensi, dan potensi dampak – Indonesia lah yang menjadi sasaran utamanya.
Memilih Indonesia - Episentrum Masalah
Joel tahu bahwa keberhasilan dalam bidang otomotif memerlukan lebih dari sekadar teknologi pintar; hal itu menuntut pasar domestik yang kuat, rantai pasokan yang mendukung, dan kekuatan manufaktur.
Indonesia, dengan pasar kendaraan roda dua yang besar dan sumber daya manusia yang terus berkembang, adalah pilihan yang tepat. Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) memproyeksikan penjualan sepeda motor di Indonesia akan mencapai 6,7 juta unit pada tahun 2025, naik dari perkiraan 6,5 juta unit pada akhir tahun 2024.
"Kalau mau bikin motor listrik, dari sinilah mulainya," jelasnya. Namun, keputusannya untuk fokus di Jakarta didorong oleh sesuatu yang lebih mendalam.
Saat Joel memeriksa monitor udara di Asia Tenggara, Jakarta termasuk yang terburuk.
“Jika kita serius tentang keberlanjutan, kita harus pergi ke tempat yang kebutuhannya paling mendesak”
Namun, membangun sepeda hanyalah satu bagian dari teka-teki. Langkah selanjutnya adalah memilih strategi yang dapat ditingkatkan skalanya, dan yang dapat dilakukan dengan cepat.
Pengisian Cepat, Bukan Penukaran: Peta Jalan yang Jelas
Charged mengambil sikap yang jelas sejak hari pertama: mereka tidak akan menggunakan sistem penukaran baterai
Meskipun banyak startup EV yang mencoba sistem penukaran, Joel telah menyaksikan sendiri bagaimana hal itu terjadi. Infrastruktur penukaran mahal, rumit, dan sulit ditingkatkan skalanya. Di sisi lain, fast charging lebih sederhana, lebih murah, dan semakin efisien.
Joel melihat masa depan di mana charging menjadi lebih mudah. "Kebanyakan orang mengisi daya di rumah pada malam hari," jelasnya. "Itu pilihan termurah dan ternyaman. Setelah pengguna terbiasa, mereka akan menyukainya." Bahkan bagi masyarakat Indonesia berpenghasilan rendah dengan kapasitas listrik terbatas, hal ini masih bisa dilakukan.
Dan setelah pertanyaan infrastruktur terjawab, tantangan berikutnya adalah mengidentifikasi untuk siapa sebenarnya sepeda ini ditujukan.
Membangun Sepeda untuk Audiens yang Tepat: Model B2B Subscription
"Kita mulai dengan B2B subscriptions,” kata Joel. "Di situlah dampak terbesarnya."
Mengapa B2B? Karena pengemudi taksi daring dan pengantaran adalah yang paling banyak berada di jalan. Banyak yang mencatat jarak tempuh hingga 300 kilometer per hari. Tagihan bahan bakar mereka sangat besar, dan emisi mereka pun lebih besar lagi. Dengan beralih ke listrik, Charged tidak hanya mengatasi masalah lingkungan tetapi juga masalah ekonomi. "Kami membantu mereka menghemat uang sekaligus membantu pemerintah mengurangi subsidi bahan bakar. Ini sama-sama menguntungkan."
Charged menawarkan langganan lengkap: sepeda, aki, perawatan, asuransi – semuanya. "Nggak repot," Joel tersenyum. "Nikmati saja."
Namun visi Joel tidak berhenti pada membuat sepeda di jalan raya, visinya juga mencakup bagaimana sepeda tersebut dibuat dan ditenagai.
Manufaktur dengan Integritas: Keberlanjutan Lebih dari Sekadar Perjalanan
Keberlanjutan bukan sekedar slogan perusahaan bagi Joel – melainkan sesuatu yang ia jalani setiap hari. Ia dan keluarganya telah sepenuhnya meninggalkan kepemilikan mobil pribadi. Sebagai gantinya, mereka mengandalkan sepeda listrik milik Charged dan pilihan mobilitas bersama untuk bepergian. Bagi Joel, ini tentang mewujudkan apa yang ia katakan – jika ia ingin membangun masa depan yang lebih bersih, ia ingin menjadi bagian darinya, bukan hanya sekadar membicarakannya.
Pola pikir yang sama juga diterapkan pada Charged sebagai sebuah perusahaan. Pabrik "Giga-shed" mereka beroperasi sepenuhnya dengan tenaga surya, didukung oleh sistem penyimpanan energi khusus.
Komitmennya tidak berhenti di situ – ruang pamer, bengkel, dan bahkan baterai mereka ditenagai oleh tenaga surya kapan pun memungkinkan. Ini merupakan upaya perusahaan secara keseluruhan untuk mengurangi emisi di setiap tahap.
Dalam hal jejak karbon, emisi operasional mereka (Scope 1 dan 2) hampir nol. Meskipun emisi rantai pasokan (Scope 3) lebih sulit dihilangkan, mereka juga berupaya semaksimal mungkin untuk menjaganya serendah mungkin.
Namun, dampaknya tidak berhenti pada penanggulangan masalah polusi, atau pemanfaatan manufaktur bertenaga surya, perusahaan juga mendukung para penumpangnya di luar transportasi: asuransi, perawatan, dan penghematan. Tujuannya adalah untuk mengangkat – bukan hanya elektrifikasi.
Tentu saja, membangun perusahaan dengan misi seperti itu tidaklah mudah. Perjalanan Joel tidaklah mudah.
Apa saja pelajaran penting yang Anda pelajari selama perjalanan Anda sebagai seorang entrepreneur?
Perjalanan saya – dari ruang rapat BMW di Tiongkok hingga membangun startup EV di Jakarta – sama sekali tidak linear. Perjalanan ini penuh dengan kemunduran, perubahan drastis, dan momen keraguan yang tak terhitung banyaknya.
Ini sebenarnya perusahaan EV ketiga saya. Dua yang pertama gagal. Banyak orang mengira saya gila karena mencoba lagi – tapi sejujurnya, saya tidak tahu bagaimana cara berhenti.
Saya selalu bilang saya seperti rudal: begitu saya mengunci target, saya tidak akan menyimpang. Itu bukan keyakinan buta – itu kegigihan yang datang dari tujuan.
Aku terus bertanya pada diriku sendiri, "Kenapa bukan aku?" Bahkan ketika sepuluh pintu tertutup, aku tetap mencari pintu kesebelas.
Bukan berarti semuanya mudah. Beban emosionalnya nyata – sindrom penipu, kelelahan, keraguan diri… Saya pernah merasakan semuanya. Yang membuat saya terus maju adalah lingkaran pertemanan saya – teman, keluarga, rekan satu tim – orang-orang yang percaya pada saya, terutama ketika saya tidak percaya.
Di Charged, kami tidak hanya membangun sepeda listrik. Kami membangun keyakinan – keyakinan bahwa Asia Tenggara dapat memimpin revolusi mobilitas bersih, bahwa keberlanjutan dan profitabilitas dapat berjalan beriringan, dan bahwa masalah terbesar dapat dipecahkan oleh orang-orang yang pantang menyerah.
Karena pada akhirnya, saya sungguh percaya ini: Selama saya masih berkendara, misi ini belum selesai. Kita tidak menyerah. Kita terus maju.
Pelajari lebih lanjut tentang Charged dan karya mereka di sini:
Bagikan artikel ini
Bagikan di facebook
Bagikan di twitter
Bagikan di linkedin
Bagikan di whatsapp

