Studio Klampisan bersama petani, seniman, dan peneliti di Tapal Kuda akan menggelar "Repertoar Fenologi: Mangsa Iklim Mendidih" pada 25 - 26 April 2025 di Purwoharjo, Banyuwangi, sebagai respons terhadap krisis iklim yang kian tak terduga. Melalui rangkaian laboratorium, pertunjukan, dan simposium, acara ini mengajak publik untuk membaca ulang perubahan musim dan lingkungan lewat tubuh, seni, dan pengetahuan kolektif.
Mengapa Kalender Musim Tak Lagi Relevan?
Di kawasan agraris seperti Tapal Kuda, pengetahuan lokal tentang musim - yang selama ini diwariskan turun-temurun melalui Pranata Mangsa - kian kehilangan ketepatannya.
Musim tanam bergeser, hujan datang tak terduga, dan petani kebingungan menentukan waktu yang tepat untuk menanam atau memanen. Dalam situasi ini, baik tradisi lama maupun pendekatan ilmiah modern sering kali tak mampu memberikan jawaban yang benar-benar membumi.
Di sinilah seni mengambil peran penting - bukan hanya sebagai ekspresi, tapi sebagai alat navigasi alternatif. Melalui tubuh, ruang, dan waktu, seni diajukan sebagai metode baru untuk membaca gejala-gejala alam yang tak lagi bisa diprediksi.
Studio Klampisan memperkenalkan konsep Titèn Baru - sebuah cara membaca musim dan lingkungan melalui tubuh, perhatian, dan pengalaman langsung. Lewat proyek Repertoar Fenologi, seni pertunjukan dijadikan laboratorium untuk mengamati, mencatat, dan menciptakan pengetahuan baru yang berakar pada kesadaran kolektif.
Tubuh petani, seniman, dan masyarakat kota diposisikan bukan lagi sebagai objek yang terdampak, tapi sebagai sensor aktif yang mencatat perubahan dan merespons lanskap sekitarnya.
“Ini bukan teater dokumenter seperti yang biasa kami kerjakan. Dokumentasi iklim justru menjadi katalisator pertunjukan, membuka ruang tafsir, dialog, dan tindakan artistik.”
Selama dua hari pada 25–26 April 2025, ladang-ladang di belakang Studio Klampisan, Purwoharjo, Banyuwangi, akan menjadi ruang bersama yang menyatukan seni, sains, dan kebudayaan agraris. Tiga rangkaian acara dari program ini antara lain:
Laboratorium Fenologi: Iklim Baru, Titèn Baru. Pertunjukan yang tumbuh dari sawah, bukan dari naskah. Lewat proses kolaboratif dan improvisasi, para performer dari berbagai daerah menjelma menjadi sensor hidup yang membaca, mengalami, dan merespons perubahan lingkungan secara langsung - dengan gerak, napas, dan tubuh mereka.
Seni Pertunjukan Situs-dan-Waktu Spesifik..
A performance that grows from the rice fields, not from a script. Through a collaborative and improvisational process, performers from various regions transform into living sensors who read, experience, and respond to environmental changes directly – with their movements, breath, and bodies.
Simposium Seni & Agrikultur. Forum lintas disiplin yang mempertemukan seniman, petani, ilmuwan, dan publik untuk bertukar pengalaman konkret tentang krisis iklim. Bukan untuk mencari kesimpulan mutlak, tetapi untuk merawat keberagaman cara tahu dan menyambung ulang relasi antara manusia, alam, dan seni.
Repertoar Fenologi bukan hanya tentang seni. Ia adalah ajakan untuk kembali merasakan dunia yang selama ini kita amati dari kejauhan. Ketika algoritma dan satelit tak lagi bisa diandalkan, tubuh yang selama ini dianggap pasif justru bisa menjadi pusat penciptaan makna.
Dalam dunia yang kian “mendidih”, proyek ini hadir untuk merintis praktik hidup yang lebih peka: terhadap lanskap yang berubah, terhadap subjektivitas yang terpinggirkan, dan terhadap kemungkinan-kemungkinan baru yang lahir dari perhatian dan kebersamaan.
Melalui proyek ini, Studio Klampisan menunjukkan bahwa seni bisa menjadi infrastruktur alternatif untuk memahami ulang waktu, musim, dan kehidupan itu sendiri.
Dan di tengah iklim yang tak menentu, seni menjadi alat bantu navigasi: bukan untuk memastikan arah, tapi untuk mengasah kepekaan, merawat rasa, dan membuka jalan-jalan baru menuju dunia yang lebih manusiawi dan berkelanjutan.
Kalau kamu tertarik untuk menyaksikan dan merasakan langsung bagaimana seni dan tanah bisa bicara, kamu bisa mempelajari detail event lebih lanjut disini
Bagikan artikel ini
Bagikan di facebook
Facebook
Bagikan di twitter
Twitter
Bagikan di linkedin
LinkedIn
Bagikan di whatsapp
Whatsapp

