Kunci Sukses Wirausaha Sosial dalam Membuat Perubahan yang Bermakna

Dampak pada Angka

Key Insights

Berdaya Talk adalah inisiatif di mana kami mengeksplorasi kisah-kisah para changemakers dan inisiatif yang telah mereka kembangkan untuk mendukung pembangunan berkelanjutan di Indonesia. Kali ini, kami berbicara dengan Rintis Mulyani (Mbak Rintis), Business Development Associate di PLUS.

How do you define a social enterprise and how is it different from for-profit or non-profit businesses?

Menurut kami di PLUS, usaha sosial bukan hanya sekadar bisnis, tapi sebuah gerakan untuk menciptakan perubahan sosial atau lingkungan melalui praktik bisnis yang bertanggung jawab dan adil. Usaha sosial memiliki beberapa perbedaan utama; mereka tidak hanya berhubungan langsung dengan konsumen, tetapi juga dengan berbagai pemangku kepentingan atau stakeholder lainnya. Usaha sosial dimulai dengan melihat masalah, menetapkan tujuan yang ingin dicapai, dan memikirkan cara menyelesaikan masalah tersebut dengan berkelanjutan.
Dari berbagai jenis usaha sosial yang kami temui, ada enam faktor pembeda, dimana dua di antaranya adalah tentang tujuan untuk berdampak dan pengelolaan pendapatan.
Pertama, usaha sosial memiliki misi, tujuan, dan dampak yang ingin dicapai dalam masyarakat atau lingkungan.
PLUS berkonsultasi dengan wirausaha sosial
Kedua, terkait penggunaan sumber pendapatan mereka; ketika usaha sosial menghasilkan profit, profit tersebut tidak hanya dikembalikan atau dibagikan kepada pemegang saham, tetapi juga dialokasikan kembali kepada para beneficiaries .
Pendapatan mereka bisa berasal dari hasil usaha bisnis, namun juga bisa mendapatkan dana melalui hibah.
Mengapa usaha sosial bisa mendapatkan hibah? Walaupun kita sebut sebagai usaha, badan hukum usaha sosial di Indonesia belum diatur secara spesifik oleh pemerintah. Karena itu, kebanyakan usaha sosial memiliki dua badan hukum, yaitu PT dan yayasan, namun ada juga yang berbentuk koperasi.
The positioning of a social enterprise is not entirely on the very business oriented or very non-profit oriented at all. They are positioned in the middle, trying to make their business while having a sustainable impact.
Selain itu, karena bisa mendapatkan hibah, mereka harus akuntabel kepada organisasi pendukung seperti yayasan yang memberikan hibah dan harus memberikan laporan yang transparan kepada masyarakat.

Apa metrik yang digunakan untuk mengukur kesuksesan sebuah usaha sosial?

Usaha sosial tidak hanya diukur berdasarkan profit, apakah untung atau rugi, tapi juga melihat perubahan apa yang dihadirkan di masyarakat. Biasanya, ada beberapa kerangka kerja yang digunakan oleh usaha sosial - kami biasa menggunakan apa yang disebut Theory of Change.
Contohnya, kita memiliki tujuan untuk meningkatkan literasi anak sekolah di sebuah wilayah. Ketika salah satu pelatihan dilaksanakan, harus diukur berapa peserta yang hadir, perubahan pemahaman mereka melalui pelaksanaan pre dan post-test.
Pengukuran dampak menjadi komponen penting yang harus dilakukan oleh usaha sosial, bukan hanya sebagai bentuk pertanggungjawaban tetapi juga untuk keperluan marketing. Ketika mencari dukungan, bisa disampaikan bahwa mereka bukan hanya bisnis, tetapi juga membawa dampak nyata dan riil.

Within this impact ecosystem, there are social enterprises, foundations, and government entities. How do these players collaborate, particularly in the Indonesian context? What roles does each of these entities play?

An intriguing aspect of this impact ecosystem is the strong spirit for driving collaboration

Within this ecosystem, various stakeholders support social enterprises. One key player is an organization like PLUS, referred to as enablers. These enablers help social enterprises thrive by supporting their operations and amplifying their impact.
Beyond PLUS, numerous enablers operate both in Jakarta and across regional areas, with PLUS also providing support to local enablers in these regions.
The second is from the funding side, such as impact investors or organizations that have the capital and mission to support funding for social enterprises.
Ada juga policy-maker dan pemerintah yang sering kali melakukan audiensi dan advokasi bersama PLUS untuk memahami apa itu usaha sosial, tantangan yang dihadapi, dan dukungan yang dibutuhkan.
Selain itu, ada dukungan legal dari banyak NGO yang menyediakan layanan pro bono bagi usaha sosial yang membutuhkan karena dana mereka terbatas. Selain itu, ada juga para akademisi dan teman-teman media dengan perannya masing-masing.
How do these stakeholders collaborate? At PLUS, we aspire to be an orchestrator – uniting all these stakeholders. These stakeholders are likened to music that has its own characteristics.
For example, if a social enterprise is experiencing difficulties related to exposure, collaboration with the media, both mainstream and new media on social media, can be the solution. PLUS will be the connector that enables this collaboration to happen, including with the government and academics.

Bagaimana karakteristik usaha sosial di Indonesia berdasarkan pengalaman PLUS?

In Indonesia, many social enterprise approaches are komunitas, yang berarti interaksi ini bersifat dua arah - bukan hanya usaha sosial yang ingin memberikan solusi, tapi ada kemauan dari para beneficiaries untuk memberdayakan diri mereka dan berkolaborasi.
For example, we once assisted a salt farmer community in Amed, Karangasem in Bali. The community-based approach here means that we bring together farmers who may not have had clearly documented goals.
DSCF1173
Kami mengumpulkan cita-cita para petani, memetakan kondisi mereka masing-masing, dan mengidentifikasi kebutuhan dan tantangan mereka. Apakah mereka perlu memahami literasi keuangan atau memperbaiki model bisnisnya?
Kami tidak bisa langsung menggurui mereka dan membagikan ilmu tanpa konteks - tapi memahami dulu nilai-nilai dan pendekatan yang sesuai dengan komunitas tersebut.

What are some examples of the different approaches that a for-profit business and a social enterprise would take?

Perusahaan for-profit biasanya berbisnis dengan tujuan utama mencari untung. Mereka fokus pada efisiensi biaya, menekan pengeluaran, dan keuntungan yang diperoleh biasanya dikembalikan kepada para pemegang saham atau pemiliknya.
Sebaliknya, usaha sosial memiliki pendekatan yang berbeda. Pertama, dalam menentukan biaya, mereka berusaha memastikan keadilan. Misalnya, jika pekerjanya adalah ibu-ibu yang mungkin tidak memiliki daya tawar yang kuat, usaha sosial tetap memperhatikan apakah upah yang diberikan adil dan mencukupi, bukan sekadar menawarkan untuk memberi upah dengan harga yang paling murah.
In addition, when social enterprises make a profit, 51%(according to general principles in the UK), must be reinvested for impact management and empowerment of beneficiaries. So, not all of it is returned to shareholders or capital owners. Part of the profit must be used for activities that benefit the community or beneficiaries.
Contohnya, di PLUS, yang juga merupakan usaha sosial, ketika kami mendapatkan profit, tidak semuanya dibagikan kepada pemilik modal. Sebagian dari profit tersebut digunakan untuk kegiatan komunitas, seperti konsultasi gratis, sehingga ada tindakan nyata yang kembali ke masyarakat.

For social enterprises that seek consultation with PLUS, what stage are they typically at in their business journey?

PLUS biasanya mendampingi usaha yang masih dalam tahap awal, bahkan dari tahap ideasi atau bahkan baru aspiring social entrepreneur. Banyak dari mereka yang baru saja memulai dan usahanya masih berumur di bawah dua tahun.
Tantangan yang sering dihadapi oleh teman-teman usaha sosial ini karena timnya masih kecil, sehingga satu orang harus menangani banyak tugas. Akibatnya, mereka sering bingung harus melakukan apa terlebih dahulu. Oleh karena itu, di PLUS, kami sering menanyakan apa yang bisa dilakukan dalam waktu dekat saja, agar tidak terlalu membebani mereka.
Selain itu, mereka juga sering kali bingung harus mencari dukungan dari siapa. Maka dari itu, sesi Hello PLUS diharapkan dapat membantu karena mereka bisa berdiskusi dengan kami dan mendapatkan teman berpikir.
Another common challenge is their need for capital, despite having an unclear business model and incomplete documentation required for funding. As a result, many rely on bootstrapping, using their own resources to make progress with limited means. At PLUS, we strive to act as their thought partner, helping them navigate and resolve their uncertainties.
PLUS juga menawarkan jaringan, jadi jika mereka membutuhkan dukungan tertentu, kami mencoba melihat di network PLUS untuk menghubungkan mereka dengan pihak yang bisa membantu.
We introduce concepts such as the social model canvas as a tool that can transform their ideas into sustainable businesses.
Sebagai contoh, saat itu saya ada sesi dengan orang yang ingin mengurangi tingkat pengangguran di daerahnya melalui kursus-kursus. Pertanyaannya adalah kliennya siapa? Beneficiary nya siapa? Pada saat itu social entrepreneurs-nya mengaku bahwa kliennya adalah teman-teman pengangguran tadi - mereka yang akan ikut kursus dan mereka yang akan bayar.
Kemudian kami tanyakan lagi "Mohon maaf Kak, mereka masih menganggur dan belum punya uang - Bagimana caranya mereka bisa bayar kursus ini?"

Sometimes, the concept of clients and beneficiaries are still not clearly defined and interchanged. As social entrepreneurs, we must also be able to pay attention to the payment capabilities of friends who want to be empowered. This ability to pay helps us determine whether they can become our clients or beneficiaries.

Apa saja contoh program dukungan yang ditawarkan oleh PLUS?

PLUS offers various programs to support social enterprises, including capacity building such as mentoring, training, and coaching, as well as research to capture profiles and challenges of social enterprises in Indonesia.
Kami juga menyediakan platform belajar dengan materi yang disesuaikan untuk usaha sosial di luar Jabodetabek yang mungkin memiliki akses internet terbatas. Selain itu, ada acara komunitas untuk saling berhubungan dan berkolaborasi.
PLUS saat ini juga mendukung NGO yang ingin mengembangkan lini bisnis - melihat semakin sulitnya mendapatkan donor. Jadi NGO ini bisa tidak hanya bergantung pada donor, dan pelan-pelan berkembang menjadi usaha sosial.

What are some examples of trends or insights about the state of social enterprises in Indonesia from your past research?

The results of research and mapping of social enterprises show that many social entrepreneurs start their business based on problems in their environment, for example the food nutrition, fisheries, and crafts sectors. It can be accessed here
Insight lainnya adalah banyak pemimpin di usaha sosial adalah perempuan, walaupun belum ada cukup data untuk membuat konklusi terhadap mengapa hal ini terjadi.
In terms of challenges that often arise, include capital and networks, especially for those outside Jabodetabek area. Regarding support from the government, the government currently does not have a specific legal entity for social enterprises, so there is no special support either.
Saat ini, dukungan pemerintah masih umum, seperti untuk UMKM, dan banyak bantuan datang dari non-government organizations. Oleh karena itu, audiensi dan advokasi menjadi bagian penting untuk meningkatkan kesadaran di sisi kebijakan.
Dari pemerintah baru ada Perpres tahun 2022 yang memberikan definisi tentang usaha sosial, dan pasal 2 mengatur tentang 51% margin yang harus dikembalikan ke komunitas. Penting bagi usaha sosial untuk mendapatkan pengakuan sebagai entitas agar bisa mendapatkan insentif atau bantuan dari pemerintah.
PLUS mengembangkan banyak dukungan untuk usaha sosialis dan NGO, termasuk advokasi untuk meningkatkan awareness pemerintah tentang kondisi riil usaha sosial di Indonesia.

Can you share a story about the transformation of PLUS program participants?

Salah satu perubahan yang signifikan adalah mereka mendapatkan jaringan yang lebih luas, yang membantu mengatasi masalah akses terhadap pengetahuan. Dengan memiliki banyak teman, mereka bisa belajar dari pengalaman orang lain di wilayah berbeda yang menghadapi tantangan serupa dan berhasil mengatasinya.
Kemudian, ketika memiliki misi yang serupa, mereka bisa berkolaborasi, seperti membuat konten bersama di media sosial. Ini adalah contoh kolaborasi sederhana yang biasanya terjadi setelah mereka mengikuti program singkat.
Rasa kebersamaan ini bukan hanya saling tolong menolong, tetapi juga saling mengingatkan untuk terus berkembang.
Salah satu harapan lain kami juga adalah untuk usaha sosial bisa memiliki tidak hanya cerita dari sisi dukungan beneficiaries, tapi juga produk yang memang kuat dan diinginkan oleh customer.

Salah satu hal yang sering kami jumpai adalah usaha sosial memulai pemasaran dan branding dengan menceritakan kisah-kisah kesulitan yang dihadapi. Namun, pada akhirnya yang dijual adalah produknya. Harapannya adalah agar produknya bisa berdiri sendiri, lebih dari sekadar organisasinya.

PLUS telah membantu banyak usaha sosial berkembang di Indonesia. Bagaimana orang-orang bisa membantu PLUS?

Kami di PLUS sangat membutuhkan dukungan publik, dan cara yang paling sederhana adalah membantu menyebarluaskan program-program PLUS, agar komunitas atau usaha sosial yang mendapatkan dukungan PLUS lebih luas dan beragam.
Salah satu kesulitan yang kita sering hadapi adalah ketika menjaring peserta, sering kali kami mendapat rekomendasi orang yang sama dari pemerintah setempat.
In addition, social enterprises often have not budgeted funds for training needs. Therefore, it is difficult to sell our training program to our beneficiaries.There needs to be a client that purchases our services.
Maka dari itu, kami di PLUS sangat membutuhkan untuk para penerima manfaat ini untuk menceritakan pengalaman mereka dalam mengikuti program yang dirancang oleh PLUS. Sehingga ketika PLUS pitching atau audiensi ke calon donor, testimoni dari peserta sangat penting.
Jadi, penyebarluasan informasi dan amplifikasi manfaat yang dirasakan sangat dibutuhkan.

Bagaimana dengan harapan Mbak Rintis secara pribadi untuk usaha sosial di Indonesia?

Harapan saya, pertama, semakin banyak orang yang aware, dan kedua, mari kita dukung usaha sosial ini dengan cara apapun (membeli produk misalnya). Jika kita menyerah pada keadaan saat ini, kita tidak akan bisa membuat perubahan bersama. Jadi, saya berharap kita bisa mendukung ekosistem yang adil dan berkelanjutan melalui apapun yang bisa kita lakukan.

Jika orang-orang ingin mempelajari lebih lanjut tentang PLUS, di mana mereka dapat menemukan informasi lanjutan?

Pelajari lebih lanjut tentang PLUS dengan mengklik tautan sosial mereka di bawah
Bagikan artikel ini
Bagikan di facebook
Bagikan di twitter
Bagikan di linkedin
Bagikan di whatsapp

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *